SEA trip Day 2: Kuala Lumpur

Hari ini dimulai dengan…bangun siang πŸ˜€

Saya merem mulai jam 12an malam, dan melek lagi sekitar jam setengah sembilan. Eh masih pagi itu mah ya?

Anyway. Hari ini dimulai dengan sarapan di sekitar Setiawangsa jam sebelasan. Karena sudah menjelang jam makan siang di Kuala Lumpur, kayaknya perut saya ikut menyesuaikan. Makan (telat) pagi dengan sepiring nasi lemak dengan lauk rendang ayam, telur ceplok, dan gulai kambing, serta segelas air kosong (di sini segelas air putih disebut air kosong) cukup dengan mengeluarkan uang sebesar RM 5.80.

Karena Maria punya janji temu dengan teman lain, maka saya dan Lalee memutuskan untuk pergi berjalan-jalan seputar KL saja sampai sore. Maria menurunkan kami di stasiun Rapid KL Cempaka, dan di situlah petualangan saya dan Lalee dimulai. Oh saya dan Maria berpisah di sini karena saya akan langsung ke KL Sentral sorenya untuk naik kereta Ekspress Senandung Langkawi ke Hat Yai, Thailand jam 21.15.

Kami memutuskan untuk turun di stasiun Mesjid Jamek. Saya dengan pedenya memutuskan untuk langsung saja jalan-jalan tanpa menitipkan ransel kecil saya (kecil sih, gak sampai 7kg gitu) di loker di KL Sentral. Keluar dari stasiun Mesjid Jamek, kami turun dan melangkah ke Merdeka Square (Independence Square) yang terletak beberapa blok dari sana. Konon bendera Malaysia yang berkibar tinggi di lapangan ini tidak pernah diturunkan sejak kemerdekaan Malaysia di tahun…….. Terus terang saya dan Lalee gak percaya sih, bersih gitu loh πŸ˜€

Di bagian ujung Independence Square ini ada sebuah lapangan luas yang kalo perkiraan saya dipakai untuk upacara bendera besar *search on this). Di ujung satunya Independence Square ada sebuah  taman kecil, lengkap dengan tiga kolam berair mancur. Tidak besar, namun memberi kesan sejuk. Ditambah lagi tempatnya diberi atap dan ada tempat duduk dari batu mengelilingi kolam-kolamnya. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar sambil saya mengistirahatkan bahu yang ternyata pegal πŸ˜€

Lalee berasal dari Belanda. Saya berjumpa dengannya di rumah Maria, host saya. Kunjungan kali ini adalah yang ketiga kalinya ke Asia Tenggara. Dia sendiri sudah berkeliling hingga ke Timur Jauh dan Afrika. Pengetahuan Lalee tentang Kuala Lumpur bahkan diakui oleh Maria sangat besar. Lalee bisa dibilang hapal semua jalan dan tikungan di kota itu. Kami berkeliling hingga sore hari tanpa memakai peta sama sekali dan hanya dua kali salah belok. Hanya satu kekurangannya, Lalee takut nyebrang jalan πŸ˜€ Sementara saya yang sudah lumayan biasa menyebrangi jalan di Jakarta dan Bandung yang ‘brutal’ sih santai aja. Berasa nyebrang jalan di rumah sendiri.

Kelar istirahat di Independence Square, saya dan Lalee memutuskan melanjutkan perjalanan kembali ke Mesjid Jamek. Mesjid tertua di Kuala Lumpur ini yang letaknya hanya beberapa meter dari stasiun. Ternyata kunjungan untuk umum hanya dibuka setelah jam setengah dua siang. Kami memutuskan untuk melanjutkan langkah menuju Chinatown dan Little India. Baru beberapa langkah saja ternyata punggung dan bahu saya sudah menyerah kalah πŸ˜› Saya akhirnya mengatakan pada Lalee bahwa saya akan mampir sebentar ke KL Sentral dan menitipkan tas, Lalee mengatakan dia akan menunggu saya di sekitar Mesjid Jamek. Buru-buru saya menaiki LRT menuju KL Sentral, menitipkan ransel, dan berlari kembali mengejar LRT arah balik ke Mesjid Jamek.

Di seberang Mesjid Jamek saya berjumpa lagi dengan Lalee, kemudian melanjutkan perjalanan ke Little India. Sebelumnya saya menyempatkan diri membeli manisan mangga seharga RM1 dan setusuk sate otak-otak dan sate sosis seharga masing-masing RM1. Dengan bekal sebotol air mineral yang saya isi ulang di rumah Maria, kami melanjutkan perjalanan. Lumayan buat mengganjal perut saya yang mulai gelisah.

Area Little India di Kuala Lumpur jauh lebih kecil bila dibandingkan yang di Singapura. Jalan kaki sepuluh menit saja sudah selesai kami menyusuri Little India. Lalee membawa saya menyebrangi jalan menuju Chinatown. Chinatown di sini juga tidak seramai dan sebesar yang ada di Singapura. Yang paling bekennya ya Petaling Street. Pusat belanja semacam Pasar Baru kalau di Jakarta.

Menurut teman saya kurang afdol kalau ke Kuala Lumpur tanpa berkunjung ke Central Market, maka kami pun berbelok ke Central Market.

 Lalee
Saya

Dari Chinatown, kami kembali berjalan menuju Mesjid Jamek. Lalee sangat penasaran karena sudah dua kali dia datang ke sini dan gagal berkunjung. Untuk memasuki Mesjid Jamek wajib untuk perempuan memakai kerudung dan pakaian tertutup.

 Lalee dan kerudung serta jubahnya
 Saya

 Sudut peminjaman jubah dan kerudung, gratis

Dari Mesjid Jamek kami berbelok ke arah Jalan Pudu Raya. Jalan Pudu Raya ini dulu terdapat sebuah terminal besar bis antar kota. Di sekitarnya bisa kita lihat banyak penginapan-penginapan yang menawarkan harga hingga RM25 per malamnya. Menurut Lalee, dulu jalan ini sangat penuh, sesak dan selalu macet oleh bis-bis besar dan taksi. Kini setelah Terminal Pudu ditutup dan sedang dalam proses dipindahkan ke Bukit Jalil, jalan rayanya menjadi lengang. Saya kepikiran penginapan-penginapan murah yang sulu mendapatkan tamu dari pengunjung yang turun di Terminal Pudu dan sekarang sepi dengan tamu. Gimana ya cara mereka bertahan nanti?

sepinya Jalan Pudu

Di ujung Pudu Raya, tenggorokan saya mulai gelisah. Haus. Cuaca saat itu memang terasa sangat panas. Kami memasuki sebuah restoran India. Lalee memesan seporsi roti canai polos yang datang beserta kuah kari, sementara saya hanya memesan segelas es teh tarik. Segarnya menikmati segelas besar teh tarik dingin. Lalee sendiri ternyata lapar dan memesan porsi roti canai yang kedua XD

es teh tarik

Dari Pudu kami meneruskan berjalan ke wilayah Bukit Bintang. Tadinya mau berkunjung ke Pavillion, tapi karena Lalee lupa di mana lokasi tepatnya, kami memutuskan untuk berjalan ke Suria KLCC Park saja.

Tiba di Suria KLCC Park kami mengistirahatkan kaki kami sejenak, rasanya pegal sekali setelah dibawa berjalan kaki nyaris selama enam jam nonstop. Saya dan Lalee berpisah di Suria KLCC Park. Lalee kembali ke tempat Maria, dan saya meneruskan ke KL Sentral di mana saya akan melanjutkan perjalanan ke Hat Yai Thailand.

Dan di mana kebodohan pertama saya terjadi. Baru mau ke negara ke dua padahal T___T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *