SEA Trip Day One: Bandung – Kuala Lumpur

Saya sebenernya pualing susah bangun pagi. Tapi karena pesawat yang jamnya lebih siang lebih mahal, pilihannya hanya yang paling pagi atau paling malam. Saya pilih yang paling pagi dengan pertimbangan sepanjang siangnya kan saya bisa ngapa-ngapain dulu.

Tiba di Bandara Husein Sastranegara jam setengah enam pagi dengan keberangkatan pesawat jam 06.55 pagi. Kabar baik, petugas check in memberitahu saya bahwa sekarang fiskal sudah tidak dikenakan lagi, baik untuk pemegang NPWP (kalau ini sudah sejak tiga tahun lalu) maupun yang tidak memegang NPWP.

Penerbangan Bandung-Kuala Lumpur sejatinya memakan waktu kurang lebih 2 jam 5 menit, tapi mungkin karena cuaca sangat cerah, kami tiba di KL 20 menit lebih cepat dari jadwal. Yang menarik adalah nyaris separuh penumpang adalah pemegang paspor merah, alias paspor Malaysia. Kelihatannya mereka habis liburan dari Bandung. Kalau kita masih banyak yang pakai Air Asia untuk bepergian, teman-teman di Malaysia juga masih banyak yang jalan-jalan ke Bandung buat liburan. Jadi ngapain sih berantem? #abaikan #terdistraksi

Keluar dari pesawat, awalnya saya mau foto pesawatnya, namun diberi kode oleh salah petugas bahwa di sana tidak boleh popotoan. Ya sudah gak jadi.

Turun dari pesawat langsung menuju imigrasi bagian Foreign Passport. Mungkin karena sudah bukan masa liburan lagi, atau masih kepagian, saat itu bagian imigrasinya nyaris kosong dari antrian. Ditanya sebentar tujuan ke Malaysia, berapa lama, dan tinggal di mana, dapet cap deh.

Keluar dari LCCT (Low Cost Carrier Terminal) saya langsung naik ke Sky Bus (tiketnya sudah langsung beli satu paket dengan tiketnya) siap menuju Kuala Lumpur Sentral (stasiun kereta pusat), perjalanan sepanjang sekitar satu jam setengah saya tempuh dengan…tidur XD Ngantuk bok, bangun jam 4 pagi.
 

pemandangan keluar dari LCCT

Di KL Sentral saya langsung naik ke lobi menuju tempat penyimpanan tas. Lumayan RM3 bisa nitip tas sampai jam 10 malam, dari pada bawa-bawa ransel. Setelah titip ransel, saya langsung ke loket Intercity yang letaknya pas di depan penitipan barang. Beli tiket kereta untuk berangkat ke Hat Yai, Thailand tanggal 4 jam 21.15 malam. Perkiraan tiba di Hat Yai sekitar jam 9an pagi esok harinya.
Saya pilih kelas yang duduk, bukan yang sleeper. Pertimbangannya: lebih murah πŸ˜€

Dari KL Sentral, saya menuruti saran teman saya untuk jalan-jalan di Petaling Street. Turun ke bawah, isi kartu Touch and Go yang dipinjami Yustin teman saya di Bandung sebesar RM10. Kemudian langsung menuju pintu masuk jalur Kelana Jaya. Sempet nyaris salah masuk gate, karena saya kira ke Petaling Street itu turunnya di stasiun Petaling. Ternyata bukan, turunnya di stasiun Pasar Seni, hanya satu menit perjalanan dengan LRT dari KL Sentral.

Berhubung saat itu sudah jam makan siang (saya tiba di KL Sentral sekitar jam 11.30 siang), sebenernya udah mau nangis liat makanan di KL Sentral. Tapi ya itu, mehel πŸ˜› Mendingan beli di warung-warung pinggir jalan deh.

Naik LRT tujuan Pasar Seni, begitu turun saya langsung gak nahan lihat menu Pork Noodle di semacam food court chinese food tak jauh dari stasiun Pasar Seni. Duduk, pesan. Tidak lama datanglah seporsi mi babi beserta air mineral. Untung saya pesannya porsi kecil, karena ternyata yang kecil aja udah bikin kenyang. Sebelum pesanan diantar, ditanya mi babinya mau yang kuah atau goreng dan minya mau mi kuning atau mi putih. Saya pilih yang berkuah dan mi kuning. Pesanan datang, bayar. Hanya RM 5.50.

Rasa mienya sendiri menurut saya agak mengecewakan sih, kurang MSG :)) Tapi ya lumayan lah buat ngembaliin tenaga yang udah tinggal satu bar.

Dari food court itu ke Petaling Street tidak jauh, hanya jalan melewati dua lampu merah. Lampu merah ke dua, lihat ke kiri and there it is, ditulis besar-besar PETALING STREET.

Petaling Street ini kalau di Jakarta mungkin Pasar Baru ya. Banyak yang jual souvenir, baju, tas, sepatu dan lain-lain. Muter-muter sambil ngunyah chestnut. Chestnutnya sendiri seharga RM20 per kilo, tapi males amat makan kacang sekilo. Akhirnya saya beli RM5 saja, itupun masih belum abis sampai sekarang πŸ˜›

Dari Petaling Street, saya balik ke stasiun Pasar Seni menuju Suria KLCC Park. Suria KLCC ini pusat perbelanjaan elit di KLCC, berdempetan dengan Petronas Twin Tower, dan bagian depannya ada taman terbuka nan luas dan sejuk. Saya cuma mampir sebentar ke tamannya, muter-muter. Sempet ngobrol sama dua pelancong dari Belanda yang sedang transit dalam perjalanan mereka menuju Laos dan Taiwan.

Membosan di Suria Park, saya balik ke stasiun KLCC untuk kembali ke KL Sentral.

Berhubung janjian ketemuan dengan hostnya masih jam 5 sore, sedangkan saat itu baru jam setengah 3, saya memutuskan untuk menunggu saja di KL Sentral.

Satu hal yang saya suka dengan KL Sentral, traveler friendly sekali. Dalam arti wifi dengan kecepatan lima kali lipat dari koneksi kabel di kosan saya (hai Speedy), dan colokan di mana-mana πŸ˜€ Yang gak saya suka itu toiletnya. Toilet yang terletak di dekat gerai KFC itu becek dan bau. Toilet yang saya masuki sebelumnya digunakan oleh seorang perempuan (yaeyalah) berwajah India dan ternyata…..dia belum siram setelah doing number two. Ewwwhhh.

Selesai ke toilet, saya ambil ransel saya dari tempat penitipan barang, kemudian ngegelosor di lantai. Buka laptop, konek ke wifi. Anteng loh sampai jam setengah limaan. Lumayan daripada bengong gak tau mau ngapain. Saya mah asal ada koneksi internet dan colokan, anteng kok. Coba aja #eh

Jam setengah lima saya memutuskan untuk turun ke jalur LRT menuju stasiun Setiawangsa, tempat janjian dengan host saya, Maria. Perjalanan sekitar 20 menit saja.

 view from Jelantek station

Dan sekarang saya lagi leyeh-leyeh di sofanya Maria πŸ™‚

Dinner with Maria

Day one complete.

Let’s see what day two brings tomorrow, shall we?

One thought on “SEA Trip Day One: Bandung – Kuala Lumpur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *