SEAtrip Day 10: Vientiane

Pukul 05.40 (setengah jam lebih lambat dari jadwal) saya tiba di stasiun Nong Khai. Kalau menurut panduan perjalanan yang saya baca, bisa saja menunggu sampai jam 9 pagi untuk naik kereta menuju Thanaleng border di Laos. Tapi saya, Jenny, dan James gak terlalu pengen nunggu sampai sesiang itu di stasiun. Kami menaiki tuktuk bersama dua orang pelancong lain (satu bule, satu Thai). Kalau di papan petunjuknya, maka ongkos tuktuk ke perbatasan adalah THB 20, tapi pada prakteknya sih jadi THB 30.

Keluar dari stasiun, tuktuk membawa kami ke sebuah gedung bertuliskan Laos Visa. Saya membaca bahwa tempat2 ini membuatkan visa laos dengan harga berlipat ganda, maka kami bertiga dengan tegas menyatakan “Border.” kepada pengemudi tuktuk. Sambil menggigil kedinginan diterjang angin pagi kami berkendara selama kurang lebih sepuluh menit menuju imigrasi Thailand. Sampai di sana kami mengantri di depan loket imigrasi. Belum ada tanda-tanda akan dibuka sih, cuma ya langsung ngantri aja biar pas buka, langsung proses.

Ternyata kebiasaan nyelak antrian gak di mana gak di mana ya. Waktu ngantri dan asik ngobrol dengan Jenny, seorang laki-laki Thai tiba-tiba berdiri di samping saya. Pelan-pelan dia beringsut ke depan saya. Tidak lama seorang laki-laki lain (temennya) ikut berdiri di depan saya. Nyari perkara. Saya colek. Dia diem aja, belagak gila. Saya colek lagi dan saya teriak, beneran teriak, “Excuse me, where you HERE before? HELLOOOO?” Mereka belagak gak denger dan buang muka, tapi mukanya mulai tengsin. Saya gak pake ngomong apa-apa lagi, saya dorong mereka ke belakang. Jenny dan James juga ikut kesel. “Back there, dudes. The line starts back there,” kata Jenny ketus. Kalo gak inget ini negara orang lain, beneran saya dorong sampe jatuh kali mereka. Nyebelin banget liat mukanya X(

Di luar dugaan, ternyata imigrasi Thailand jam 6 pagi buka. Kirain kami masih harus nunggu sampai jam 7 atau 8. Prosesnya cepat sekali. Kasih paspor, cap sana sini, selesai. Dari imigrasi Thailand kami naik bus seharga THB 20 menuju imigrasi Laos, menyebrangi Friendship Bridge. Sebenarnya kayaknya bisa aja nyebrang jembatan itu dengan jalan kaki. Namun dengan suhu dan angin sedingin itu, males saya mah. Naik bus juga cuma 10 menitan.

Tiba di imigrasi Laos, saya ambil formulir Visa on Arrival. Isi dengan lengkap. Sertakan USD 30 untuk biaya Visa dan USD 1 untuk “Overtime Fee”. Saya sarankan pakai USD untuk bayar Visa, karena kalau bayar pakai THB kalau gak salah meroket jadi THB 2.000, yang kurang lebih sama dengan USD 50-60.

Setelah menunggu selama sekitar satu jam setengah, visa selesai. Seorang petugas akan memanggil nama kita sambil melambaikan paspor. Kalau tidak punya uang pas saat membayar Visa gak papa kok, mereka pasti ngasi kembaliannya dalam bentuk USD atau THB (tergantung mata uang apa yang kita pakai saat membayar).

Nah sambil nunggu visa jadi adalah saat yang tepat buat nyari temen berbagi jumbo (semacam taksi, muat untuk sekitar delapan orang plus bagasi) ke Vientiane. Kalau pergi sendiri harganya bisa THB 200-300. Nah kalo berbagi dengan yang lain, kita cuma perlu bayar THB 50.

Saya dan James memilih turun di Rue Norkeokouman untuk menginap di Mixay Guesthouse. Mixay Guesthouse ini banyak direkomendasikan oleh para pelancong. Harganya murah, pelayanannya bagus, petugasnya bisa bahasa inggris. Harga kamar dorm (terdiri dari beberapa tempat tidur dalam satu kamar) adalah USD 6. Harga kamar dengan satu tempat tidur ukuran singel USD 9. Kamar dengan satu tempat tidur ukuran dobel USD 11. Semuanya dengan kamar mandi di luar dan memakai kipas angin serta exhaust fan. Untuk kamar dengan satu tempat tidur ukuran dobel atau dua tempat tidur ukuran singel seharga USD 15, yang ini dengan kamar mandi dalam dan AC. Semua dapat sarapan, handuk diganti tiap hari, kamar dirapihin tiap hari. Top banget.

Btw, percaya deh, kalau datang di bulan Januari ke Vientiane, gak perlu AC. Kipas angin aja saya gak nyalain. DINGIN JEK.

Saya memilih satu kamar singel. Setelah naro barang dan mandi pake air panas, saya memutuskan buat muter2 Vientiane sedikit. Di jalan saya beli makan siang dari sebuah warung seharga 6000 Kip beserta nasi. Saya gak tau terbuat dari apa, yang pasti banyak daging dan urat yang bikin gigi saya ngilu karena nyelip-nyelip.

Oh ya mata uang Laos (LAK atau Kip) hanya bisa didapatkan di Laos. Dan begitu keluar dari Laos, maka mata uang ini tidak bisa digunakan atau ditukarkan sama sekali. Makanya jangan kalap nukerin uang, secukupnya aja. Saat ini nilai tukarnya adalah USD 1 = LAK 8.052 (Rate yang ini adalah yang paling bagus dari semua Money Changer di sepanjang pinggiran sungai Mekong. Namanya STB, letaknya pas sebelahan dengan Presidential Palace)

Nah gara-gara kena AC super dingin di kereta, ditambah cuaca dingin di Vientiane, saya malah kena demam. Flu tambah masuk angin. Jadi deh saya tidur sejak jam dua siang sampai jam 6 sore. Kebangun karena perut saya ngegeruyuk minta makan. Akhirnya saya beli popmi di sebuah mini market. Karena belum familiar sama mata uangnya, saya salah hitung. Saya pikir uang saya cukup untuk beli popmi dan satu snack kecil, ternyata kurang. EH lah si mbak di kasir mungkin kesian liat saya udah pucet dan menggigil ya. Dikasi diskon deh, jadi uang saya cukup XD

Balik ke kamar sambil makan popmi dengan kuah super panas. Lumayan bikin keringetan. Abis makan saya minum Decolgen yang tadi siang saya beli di salah satu minimarket, ketiduran sampai jam setengah delapan. Kemudian saya turun ke lobi untuk menggunakan wifi, soalnya kata petugas wifi hanya bisa di lobi.

Dasar orang baik banyak yang sayang ya, ngeliat saya batuk-batuk dan menggigil, tau-tau salah satu petugas nongol dengan membawa semangkuk besar mie khas Lao. Buat saya. Gratis. Kayaknya mereka kesian ama saya XD

Jam sembilan malam wifi dimatikan, sudah waktunya saya naik ke kamar. Waktunya tidur. Besok adalah waktunya jalan-jalan. Semoga demam saya sudah turun besok…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *