SEAtrip Day 7: Bangkok

Pagi ini rencana saya adalah menaiki river boat di sepanjang Chao Phraya River dan mengunjungi beberapa kuil (Wat). Dari tempat host saya, saya naik MRT ke Si Lom, dan berganti BTS ke arah Saphan Thaksin. Di LRT saya (yang dasarnya kepo) menegur seorang bapak-bapak bule yang duduk sendirian. Awalnya dia seolah tidak mendengar saya. Kemudian saya teringat dengan nasib muka lokal saya, jangan2 saya dikirain scammer T___T Kemudian saya menjelaskan bahwa saya datang dari Indonesia dan ini adalah kunjungan pertama saya ke Bangkok. Baru dia mau menoleh dan menyahuti saya. Dia berasal dari Hawai, tinggal di Bangkok sekitar satuh tahun. Kebetulan dia juga pergi ke arah yang sama, dia bilang dia akan menunjukkan kepada saya di mana letak dermaga yang saya cari untuk mengarungi Chao Phraya.

Kami turun di Saphan Thaksin, mengambil pintu keluar di sebelah kanan. Begitu turun langsung disambut kesibukan Central Pier Chao Phraya. Beliau menunjukkan bahwa dermaga yang saya cari ada di sebelah kanan. Setelah berterima kasih, saya menghampiri loket yang bertuliskan Tourist Boat Rive Cruise. Tiket untuk persinggahan tak terbatas dari Central Pier hingga Phra Athit Pier (Pier No. 13) seharga THB 150, sedangkan untuk yang sekali jalan, berharga THB 25 setiap naik. Karena tidak banyak dermaga yang hendak saya kunjungi, saya memilih tiket sekali jalan yang bisa dibayarkan di loket tersebut atau di perahu saat ditagih nanti.

Wat pertama yang saya singgahi bernama Wat Kanlayanamit di mana ada patung Buddha dalam posisi duduk, besar sekali dan dilapisi dengan emas.

dari Wat Kanlayanamit, saya berbelok ke kanan, menyusuri pinggiran sungai sekitar dua ratus meter untuk mengunjungi Santa Cruz Church. Sayangnya saat itu karena belum waktu ibadah sore, gereja masih ditutup.

Dari Wat Kanlayanamit saya meneruskan perjalanan ke Wat Arun. Jangan lupa memberi tahu pada penjaga dermaga bahwa kita mau menaiki Tourist Boat, supaya dia bisa memanggilkan Touris Boat berikutnya yang lewat. Saya dilewati begitu saja oleh dua Tourist Boat karena mereka kayaknya menyangka tidak ada penumpang dari dermaga tersebut.

Di dermaga Tha Tien. saya turun dan langsung mengantri masuk ke sebuah ferry yang akan membawa saya menyebrangi sungai Chao Phraya menuju Wat Arun. Harga tiket ferry THB 3 saja.

Sampai di Wat Arun saya memasuki area kuil. Agak kaget saat melewati petugas, mereka meminta tiket masuk kepada para wisatawan kulit putih, rupanya untuk wisatawan asing ada tiket masuk seharga THB 50. Karena muka saya muka lokal, maka saya bebas masuk tanpa membayar.

Wat Arun memiliki dua pilar yang bisa kita naiki. Saya hanya sampai di pilar pertama. Sudah ngeri duluan lihat tangga menuju pilar kedua yang nyaris vertikal dan masing-masing anak tangga cukup tinggi.

Yang unik dari lokasi Wat Arun adalah para penjual suvenir bisa berbahasa Indonesia dan dagangannya bisa ditawar. Saya membeli es kelapa muda dari seorang penjual yang mengatakan harganya hanya THB 30 alias, “Sepuluh ribu saja.” Quoted verbatim 🙂 Saya menawar sedikit dan harga kelapa muda segar itu berubah menjadi THB 20 alias, “Enam ribu saja.”

Dari Wat Arun saya menyeberang kembali ke Tha Tien Pier. Niatnya berkunjung ke Wat Pho, di mana ada patung Buddha dalam posisi berbaring santai terbesar di Thailand. Sebelumnya saya mempir dulu ke pasar Tha Tien membeli sepiring pad thai untuk mengisi perut seharga THB 50 dan air mineral botolan seharga THB 10.

Saya mengobrol dengan seorang bule perempuan dari Australia, dia bilang kalau mau ke Wat Pho, sebaiknya turun di dermaga Maharaj. Dengan demikian saya bisa memulai kunjungan dari Grand Palace, Wat Phra Kaeo, dan berakhir di Wat Pho. Saya pikir mungkin ada baiknya demikian karena toh kalau nanti saya turun di Maharaj Pier, saya akan tiba di Tha Tien Pier lagi.

Ada kejadian sedikit menyebalkan di sini yang bikin saya marah2 setengah mati. Berbarengan dengan saya menunggu Tourist Boat menuju Maharaj Pier, ada rombongan besar yang menyewa dua Tourist Boat. Saat perahu mereka merapat ke dermaga, perahu yang saya tuju (setelah menunggu setengah jam) juga tiba. Karena rombongan ini lamaaaa bener angkut penumpang mereka yang rata2 pada asik sendiri jalan dengan santai, Tourist Boat yang saya tuju merapat di samping mereka untuk menurunkan penumpang dengan cara menyebrangi perahu mereka. Nah waktu saya mau naik, saya dimarahi oleh tour leader mereka, katanya ini bukan perahu buat saya. GUA JUGA TAU! Saya jelaskan saya mau menyebrang perahu mereka untuk menaiki perahu yang saya tuju, sambil menunjukkan ke arah perahu saya di sebelah perahu mereka. Tapi kelihatannya mereka terlalu sibuk mengurusi grup mereka, mereka tidak mengerti yang saya maksud. Saat saya berhasil menaiki perahu mereka untuk menyebrang…. perahu saya sudah pergi.

“Great! Now they left! Do you know how long I’ve been waiting to get to that boat? Happy now?!” Karena cuaca sangat panas, kepala saya sakit, saya jadi emosi dan ngomel2 ke tour leader mereka yang hanya bengong melihat saya. Sebuah keluarga dari Iran juga mengalami hal serupa dengan saya, dan bapaknya juga ngomel ke tour leader tersebut.

Saat itu sudah menjelang jam 14.30. Sementara Grand Palace ditutup jam 15.30. Ketika Tourist Boat berikutnya datang, jam sudah menunjukkan jam 15.00. Akhirnya saya memutuskan untuk berbalik arah kembali ke Central Pier. Host saya ngajak ketemuan di Central World.

Dari BTS Saphan Taksin, saya menuju stasiun Siam. Dari sana berjalan menuju exit 6 ke Central World. Lumayan jauh juga ternyata. Kalau yang di Jakarta suka mengeluhkan jauhnya jarak halte TJ Dukuh Atas ke halte transit, yang ini paling gak dua kali lebih jauh jaraknya.

Setelah menemui host saya dan kami mampir ke sebuah kafe, dia mengajak saya ke Victory Monument. Victory Monument ini semacam Bundaran HI kalau di jakarta kayaknya sih, tempat Red Shirts berdemonstrasi. Salah satu bagian dari Central World pernah terbakar habis saat mereka demonstrasi besar-besaran.

Di Victory Monument, kami mampir untuk makan malam di Victory Park, membeli semangkuk mie rebus berlimpah potongan daging dan jeroan seharga THB 30 dan air mineral seharga THB 10.

Dari Victory Monument kami langsung pulang, dan besok saya akan meneruskan perjalanan ke salah satu Highlights of Bangkok: Khao San Road

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *