SEAtrip Day 8: Khao San Road

Pagi ini saya dan host saya berpisah di stasiun Sukhumvit. Saya sendiri turun di stasiun Si Lom, berganti dengan BTS menuju Saphan Taksin. Rute menuju Khao San Road yang terbaik, tercepat, dan termurah, adalah dengan mengulangi rute saya ke Chao Phraya River kemarin. Hanya saja kali ini saya langsung turun di Phra Atit Pier. Harga tiket dengan Tourist Boat seharga THB 25. Keluar dari Phra Athit Pier, saya menyebrangi jalan dan berbelok ke kanan. Menyusuri jalan Phra Athit Road sebentar, kemudian belok kiri pada tikungan pertama. Jalan ini tembusnya nanti ke jalan di belakang Wat Chanasongkram. Mentok jalan, belok kiri lagi. Di sebelah kanan jalan adalah tembok Wat Chanasongkram. Di jalan ini banyak penginapan juga, cuma kelihatannya lebih mahal kebanding di Khao San.

Telusuri jalan, mentok di jalan raya. Di seberang saya adalah Soi Rambuttri. Soi Rambutrri ini bersebelahan dengan Khao San Road. Saya belok ke kanan dan berjalan sejauh mungkin lima puluh meter. Di sebelah kiri saya melihat ada pos polisi. Nah di sebelah pos polisi ini adalah Khao San Road.

Hal pertama yang saya lakukan di Khao San adalah mencari penginapan murah. Lumayan sulit ternyata. Kebanyakan kamar disewa dalam hitungan minggu, bulan, bahkan tahun. Saya mendapatkan kamar seharga THB 180/malam untuk single bed shared bathroom di sebuah guesthouse bernama Dio Guesthouse. Letaknya agak masuk ke dalam sebuah gang kecil.

Setelah membayar kamar dan meletakkan barang, saya mampir ke sebuah toko bertuliskan “Laundry” tepat di depan gang Dio Guesthouse. Laundry di daerah sini berharga sama, sebesar THB 30 per kilo. Kemudian saya menyusuri jalan Khao San mencari money changer. Banyak sekali money changer di sini, mungkin di setiap sepuluh meter ada satu money changer. Yang memiliki rate terbaik ada tidak jauh dari guesthouse saya.

Khao San di siang hari sudah cukup ramai dengan para pedagang dan turis, kata teman saya mulai jam 7 malam nanti keadaannya akan lebih chaotic lagi. Mari kita lihat nanti ^_^

Jam menunjukkan pukul dua siang saat saya selesai online melaporkan perjalanan saya lewat twitter dan mengerjakan beberapa pekerjaan lainnya. Saya memutuskan untuk istirahat sebentar. Tidur.

Saya terbangun sekitar jam 5 sore. Setelah mandi dan membereskan tas, saya keluar. Pertama yang saya cari adalah… makan sore XD Laper! Dan tujuan saya adalah…. Burger King πŸ˜€ Yang bermasalah dengan makanan di Thailand adalah, serba gurih. Sementara saya lagi pengen banget sama rasa asin. Akhirnya saya beli sepaket burger lengkap dengan kentang goreng dan menaburkan banyak garam di kentangnya πŸ˜€

Sambil makan, saya melihat perubahan Khao San Road yang saya lihat di siang hari dengan sore hari. Pedagang2 dengan gerobak masing2 mulai bermunculan. Rata2 menjual sate sosis, bakso, atau daging. Para penjual pakaian, aksesoris, panti pijat juga mulai menurunkan armadanya ke jalan. Riuh sekali. Saya menyusuri dua sisi Khao San Road, kemudian berbelok ke Soi Rambuttri. Keadaannya juga sama, hanya saja di Soi Rambuttri masih terhitung lebih hening kebanding Khao San. Keadaan Khao San saat itu mengingatkan saya dengan pasar mingguan di Gasibu, Bandung πŸ˜›

Di depan sebuah tempat pijat, saya tergiur juga untuk mencoba pijatnya. Kata teman saya, tidak lengkap kalau ke Thailand tanpa mencoba Thai Massage. Saya memilih Thai Massage setengah jam seharga THB 100. Wogh mantap. Kayak diajak akrobat, ditekuk sana tekuk sini. Kayaknya sendi saya kretekan semua jadinya. Apalagi otot bahu yang menggendong ransel seharian.

Jam sebelas saya kembali menyusuri Soi Rambuttri. Ada tukang durian yang saya incer, jualannya. Bukan tukangnya. Beli durian tebal dan lembut seharga THB 60 (kurang lebih Rp. 20.000. Kalau di Indonesia kayaknya harganya bisa di atas Rp. 40.000 saking tebalnya). Kemudian kembali ke penginapan. Abis pijat kayaknya enak kalau tidur πŸ˜€

Setelah makan durian, saya tertidur kemudian terbangun lagi jam 3 pagi. Keadaan sudah sedikit lebih sepi, tapi masih terdengar suara hous music di luar. Karena [enasaran, saya memutuskan untuk keluar.

Di luar sudah tidak terlihat jalanan lagi. Meja dan kursi kafe2 yang bertebaran di Khao San sudah memakan tempat hingga ke tengah jalan. Di beberapa sudut ada beberapa wisatawan yang muntah-muntah karena mabuk. Merasa tidak terlalu nyaman dengan suasana tersebut, saya memutuskan kembali ke penginapan. Menurut pemilik penginapan, tiap malam keadaannya seperti itu. Mau sedang peak season atau low season sama saja. Dan biasanya para pemilik kafe dan pedagang2 di sana termasuk juga penginapan, membayar sejumlah uang kepada mafia jalan agar mereka bisa buka tempat mereka non stop sampai pagi hari. Karena semestinya jam malam sudah berlaku mulai jam 2 pagi. Nah para mafia ini akan membayar kepada polisi setempat supaya pelanggan mereka bisa terus beroperasi.

Masuk ke kamar, saya merem lagi. Dan baru terbangun sekitar jam 7 pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *