Lewat Tengah Malam

Aku melontarkan satu sloki wiski ke mulutku dan menelannya tanpa jeda. Panasnya membakar tenggorokan hingga ke lambung. Mungkin kalau pertunjukan debus, aku tinggal menghembuskan napas dan menyalakan kobaran api. Seandainya panas itu bisa sedikit saja membakar keheningan di rumah ini.

Pecahan kaca dari pigura foto yang biasa bertengger di meja samping tempat tidur masih berserakan di lantai. Aku tidak ingin membersihkannya dan terpaksa melihat foto yang ada di pigura itu. Picture perfect couple, kata mereka yang pernah melihatnya. Iya, itulah aku dan Wira. Picture perfect. Couple? Not anymore.

Pigura itu sejam yang lalu aku banting ke lantai, beberapa saat setelah membaca selembar surat yang ditinggalkan Wira di teras rumah kami. Tentang permohonan maafnya. Tentang alasan kepergiannya. Tentang doanya yang katanya selalu untukku. Dan tentang anak yang didapatnya dari perempuan lain, bukan dari rahimku.

Sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan. Ketidakhadiran Wira yang berlebihan di rumah. Keengganannya menyentuhku penuh birahi seperti 3 tahun pertama pernikahan kami. Juga panggilan telepon lewat tengah malam yang dijawabnya dengan suara berbisik sambil diam-diam turun dari tempat tidur dan melangkah ke luar kamar. Dipikirnya aku tidak tahu.

Tapi tetap saja ketika dugaan berubah menjadi kebenaran, tidak banyak orang yang siap. Aku salah satunya. Reaksi pertamaku seusai membaca suratnya adalah menelepon dan menuntutnya untuk kembali. Aku istrinya, dia suamiku. We belong together. We must be together, sampai maut memisahkan kami. Bukan selangkangan dan rahim perempuan lain. Nyatanya, aku mematikan telepon genggam sedetik setelah kutekan tombol “call”. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu apakah Wira tidak akan lebih menyakitiku lagi dengan keputusannya.

Dan sekarang aku hanya bisa bergelung di lantai kamar tidur yang gelap dan sepi. Salah satu serpihan kaca menorehkan pedih di lenganku, dan aku mendiamkannya. Saat ini aku menikmati apapun yang bisa aku rasakan selain rasa sakit dan kesepian ini.

“I need you, Wira…,” bisikku pada selembar foto pernikahan kami yang tercabik dari piguranya, terkapar dalam diam di lantai.

Jam dinding tua pemberian ayahku berdentang pelan di ruang tamu. Jam 01.15 pagi.

“I just need you now..,” aku berbisik lagi. Kali ini pada sepotong pecahan kaca yang baru saja kutusukkan ke pergelangan lenganku. Dan kegelapan ruangan menjadi semakin pekat.

Inspirasi dari lagu “Need You Now” oleh Lady Antebellum.

6 thoughts on “Lewat Tengah Malam

Leave a Reply to Nita Sellya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *