Tentang Jalan-jalan. Dikit.

Percaya atau nggak, udah percaya aja, yang namanya jalan-jalan ke luar negeri itu baru gue alami tahun 2008, di ulang tahun gue ke 30. Melebihi target awal gue di mana gue mau menapak luar Indonesia paling telat di usia gue yang ke 25. But see, dreams do come true eventually. Telat, tapi mimpi gue jadi kenyataan juga. Tahun 2008 adalah tahun di mana gue menghadiahi diri gue ke Singapura dan Kuala Lumpur, sendirian. Tahun itu masih diberlakukan bea fiskal, jadi gue memilih untuk masuk ke Singapura lewat Batam. Jadi rutenya Jakarta-Batam-Singapura-Kuala Lumpur-Jakarta.

Di Singapura gue nebeng di apartemen salah satu boss gue yang tinggal di sana. Dia dan keluarganya baik banget, selama dua malam gue nginep di sana tiap malam dia nganter gue ke resto fast food nyari…..daging. Dia vegan soalnya, gak ada itu yang namanya daging dan telur di resep masakannya. Jadwal gue tiap hari adalah pagi ikut dia ke pusat kota, dia ngantor gue jalan-jalan sendiri. Malemnya gue balik ke kantor buat ikut dia pulang ke apartemen.

Di Singapura itu modal peta dan kartu kereta/bus, dijamin gak nyasar. Transportasinya tertib dan sangat teratur. Keren lah. Gue melipir juga ke Pulau Sentosa. Ya seperti turis pada umumnya aja. Di hari ketiga gue naik kereta malam yang pake tempat tidur gitu, meluncur ke Kuala Lumpur.

Di Kuala Lumpur gue nginep di dua rumah yang berbeda, keduanya dapet kenalan dari Couchsurfing. Dan gue naik ke Twin Tower Petronas di hari ulang tahun gue 😀 Cheesy, tapi senengnya setengah mati. Gue ngerasa, “Oooh jadi kayak gini ya rasanya ngasih kado ulang tahun untuk diri sendiri.”

WP1

WP2

Perjalanan luar negeri ke dua itu Januari tahun 2011, gue ke sebagian negara Asia Tenggara selama 4 minggu melalui jalan darat. Ngalamin yang namanya salah beli tiket kereta yang menyebabkan gue balik lagi ke KL padahal harusnya gue ke Bangkok. Kenalan sama petugas imigrasi darat Thailand yang ketemu lagi pas gue manyun di stasiun KL Sentral gegara salah beli tiket dan terpaksa ngejogrog di situ sampe malem buat naik kereta ke Hat Yai, kemudian dia nraktir gue sarapan dan ngebayarin gue token kamar mandi di stasiun biar gue bisa mandi. Bless you, uncle 🙂

Kemudian di perjalanan itu juga gue ngalamin yang namanya keliling kota jalan kaki mengunjungi semua landmark kota dari jam 9 pagi, sampai jam 1 siang. Iya segitu doang di Vientiane petualangannya. Sisanya gue habiskan buat tidur. Karena besok malamnya gue harus siap-siap naik busa selama lebih dari 24 jam dari Vientiane ke Hanoi. Ngelewatin perbatasan di atas gunung yang berkabut dan hujan deras dengan kostum yang salah banget, celana bahan ringan selutut, kaos lengan pendek, dan sendal jepit. Bertemu penduduk lokal yang sama sekali gak bisa bahasa Inggris sampe mau mesen makan pun gue bingung.

WP5kabut anjis tebel di perbatasan Moc Bai

Di perjalanan itu juga gue akhirnya bisa ngeliat sunset dan sunrise di Angkor Wat yang seandainya turisnya gak sebanyak itu pasti bakal berlipatganda magis dan indahnya. Berkunjung ke Killing Fields, berjalan di atas tanah yang pernah menjadi kuburan massal bagi ribuan orang di masa pemerintahan Pol Pot. Ngeliat kumpulan tengkorak setinggi lebih dari 5 meter. Ada yang bolong karena peluru atau sabetan benda tajam, ada yang rengkah, gak ada yang utuh. Gue juga masuk ke Musium Genosida, tempat pembunuhan dan penyiksaan tawanan sebelum dibawa ke Killing Fields, dan sebagian dari mereka adalah bayi dan anak kecil. Serem itu tempat.

WP4fajar menyingsing di Angkor Wat

Yah begitulah sedikit kisah jalan-jalan gue yang emang cuma dikit. Entah kapan bisa jalan-jalan lagi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *