Benih (#100kata8)

Buk!

Kali ini kepalaku. Sebelumnya telapak kakiku dan punggungku yang dihantamnya.

“Anak haram! Sini kubunuh!” suara itu lagi.

Aku merasa Ibu meringkuk dan memeluk aku. Berusaha untuk menjadi tameng.

“Ampun, Bapak..,” isak Ibu makin lirih, seiring dengan hantaman yang menghantam perutnya lagi dan lagi. Seandainya aku sudah mampu melindungi Ibu..

15 tahun kemudian..

“Anak haram! Harusnya kubunuh kau sebelum lahir!”

Sebuah tinju merangsek ke arah wajahku. Aku maju ke depan.

Matanya mendelik, liurnya menetes. Kuputar belati yang baru saja kutusukkan ke perutnya. Aku bosan dengan pukulan dan makiannya.

“Aku bukan anak haram. Aku anak ibuku. Dan aku juga anakmu…. Bapak.”

4 thoughts on “Benih (#100kata8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *