Singkawang memerah: Pawai Lampion

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang sudah saya dengar kemeriahannya sejak beberapa tahun lalu. Baru tahun inilah saya berjodoh untuk datang berkunjung. Sejak memasuki kota Singkawang saya dan rombongan sudah disambut oleh lampion merah yang bertebaran di mana-mana.

20160220_122845

Singkawang (San Keuw Jong) mulanya adalah sebuah desa di Kesultanan Sambas. Desa yang penduduknya merupakan asimilasi dari etnis Melayu, Tionghoa, dan Dayak ini berkembang menjadi kota yang begitu cantik, ramah, dan toleran. Konon Singkawang menjadi tujuan utama para “pengungsi” kerusuhan 1998 Jakarta lalu karena mereka bisa berlindung dengan aman di sini.

Toleransi ini juga saya alami sendiri saat berbincang dengan beberapa orang antara lain supir kendaraan rombongan kami yang mengatakan:

“Pawai Lampion gak mungkin mulai sebelum Isya, Mbak. Biar yang mau shalat gak keganggu,” dan

“Kalau parade Tatung paling jam 11 siang udah selesai. Sebelum jam azan dhuhur lah.”

Saya termangu mendengarnya. Demikian pula masjid tidak memperdengarkan suara pengajian dan adzan sejak pagi buta. Saya sempat menguping sebuah masjid, yang hanya bersuara kurang lebih setengah jam sebelum adzan Subuh dan hening setelah shalat berjamaah selesai. Dan klenteng juga bertaburan nyaris di setiap sudut jalan, besar dan kecil. Semua saling menghormati dan saling menjaga.

Apa yang paling menarik dari perayaan Cap Go Meh di Singkawang? Tentu saja parade tatung. Tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Jadi ya namanya orang kerasukan, kayaknya bawaannya kebal macem-macem ya. Ya kebal tusuk, kebal bacok, kebal sakit. Parade ini sempat dilarang untuk dilakukan selama jaman Orde Baru, entah kenapa. Dibuka lagi oleh Presiden RI ke 4, alm Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal sebagai Gus Dur.

Parade tatung dibuat meriah dengan dandanan unik dan tandu-tandu berwarna warni. Belum lagi ada beberapa “jelangkung” yang cukup merepotkan pembawanya selama parade karena berontak-berontak terus.

Sehari sebelum parade tatung, diadakan dulu pawai lampion. Puluhan kendaraan dihias meriah (secara hiasan dan suara), diisi oleh pemuda pemudi cantik dengan berbagai kostum. Ada juga tim drum band yang berperan sebagai pembuka pawai. Dan tentu saja ada barongsai. Total ada sekitar 100 peserta yang ikut dalam kemeriahan pawai lampion, baik peserta yang menggunakan kendaraan maupun yang berjalan kaki.

Cuaca yang dingin dan hujan yang sempat agak lebat sama sekali tidak menyurutkan antusiasme warga Singkawang maupun yang pelancong seperti saya untuk menyaksikan pawai.

DSC00568

DSC00587

DSC00600

DSC00558

Saya tidak berhenti tertawa dan bertepuk tangan senang selama acara. Terbawa keramaian dan kegembiraan pawai lampion :)) Saya juga salut sekali dengan panitia pawai yang sesibuk apapun tetap mau menjawab pertanyaan turis, saya, dengan ramah dan penuh senyum.

Singkawang, saya jatuh cinta denganmu 🙂

Tulisan tentang parade tatung Cap Go Meh 2016 menyusul yaa!

PS: Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang.

2 thoughts on “Singkawang memerah: Pawai Lampion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *