Pulau Kemaro dan Legendanya

Sekitar 10 km dari kota Palembang, di Sungai Musi terdapat sebuah pulau seluas 30 hektar yang ajaib, bernama Pulau Kemaro. Pulau ini dikenal sebagai pulau yang tidak pernah terpengaruh oleh pasang surutnya Sungai Batanghari Sembilan (Sungai Musi). Apapun situasi sungai, pulau tetap kering tak tersentuh luapan air. Pulau ini bisa dijangkau dengan naik ketek (perahu kayu bermesin, bisa menampung sekitar 10-12 orang sekali jalan dan mesinnya berbunyi “keteketeketek”. Bisa disewa seharga mulai dari 300 ribu/ketek untuk perjalanan menuju dan kembali ke dermaga di bawah Jembatan Ampera). Jarak tempuhnya sekitar 15-20 menit, kalau tidak salah. Saran saya, datanglah sepagi mungkin atau sore sekalian. Soalnya kalau di antara jam 10 – 15, matahari sangat menyengat dan bikin sakit kepala.

DSC01134

Siang yang sangat cerah menuju Pulau Kemaro

Pulau Kemaro awalnya merupakan pulau hibahan dari raja Palembang untuk para pendatang yang membawa agama Islam memasuki Palembang, sebagian besar berasal dari Yaman, untuk digunakan sebagai lahan pemakaman. Konon makam-makam ini masih bisa ditemui saat ini di pulau tersebut.

Palembang Trip

Pagoda di Pulau Kemaro dari arah sungai

Ada sebuah legenda yang melekat erat dengan Pulau Kemaro:

Alkisah seorang saudagar Tiongkok bernama Tan Bun An hendak melamar seorang puteri raja Palembang bernama Siti Fatimah. Tan Bun An membawa kekasihnya ke Tiongkok untuk menemui keluarganya. Sepulang dari Tiongkok, orang tua Tan Bun An menghadiahi beberapa guci besar.

Memasuki Palembang, di dekat Pulau Kemaro yang konon saat itu menjadi semacam pintu “imigrasi” bagi semua kapal yang hendak memasuki Sungai Batanghari Sembilan, Tan Bun An membuka satu persatu guci besar pemberian orang tuanya.

Nampaknya Tan Bun An, mengingat betapa banyak kekayaan keluarganya, berharap orang tuanya menghadiahkan emas perhiasan untuk mereka. Yang ternyata yang ditemui Tan Bun An di semua guci adalah berlapis-lapis sawi asin. Seketika Tan Bun An merasa marah dan kecewa. Dia membuang semua guci dan isinya ke dasar Sungai Batanghari Sembilan. Guci terakhir yang hendak dibuang membentur pinggiran kapal dan pecah.

Ternyata ada berbongkah-bongkah emas di dasar guci, di bawah lapisan sawi asin tadi. Mungkin hal ini dilakukan untuk mencegah emas tersebut diambil perompak, atau mungkin memang iseng aja.

DSC01170

Melihat bongkahan emas tersebut, Tan Bun An menyesal luar biasa telah membuang guci-guci yang lain. Dengan segera dia menceburkan diri ke Sungai Batanghari Sembilan, berharap bisa mengambil guci yang lain. Setelah Tan Bun An masuk ke sungai, tinggallah Siti Fatimah dan para pengawalnya di kapal. Setelah menunggu lama, Tan Bun An tidak pernah kembali ke permukaan. Melihat hal tersebut, seorang pengawal mereka langsung masuk ke sungai mencari Tan Bun An. Tak satupun kembali.

Siti Fatimah yang menduga kekasihnya tenggelam di sungai dan berduka, memutuskan untuk menyusul kekasihnya masuk ke sungai. Sebelum Siti Fatimah menceburkan diri, dia berpesan kepada para pengawalnya,

“Apabila ada tanah yang muncul ke permukaan sungai ini, maka itulah makam kami.”

DSC01164

Lalu dia nyebur.

Dan gak balik lagi.

Tidak lama kemudian dari Sungai Batanghari Sembilan, muncul 2 gundukan tanah besar dan 1 gundukan tanah kecil. Sejak saat itu masyarakat percaya itulah makam Tan Bun An, Siti Fatimah, dan pengawalnya.

2016-05-14_10-15-00

Makam Tan Bun An dan Siti Fatimah

Konon Pulau Kemaro karena legenda ini dan juga karena pemakaman para penyebar agama Islam dianggap menjadi pulau keramat. Sebuah klenteng dan pagoda dibangun sebagai penanda makam Tan Bun An, Siti Fatimah, dan pengawalnya.  Kalau Cap Go Meh, pulau ini ramai dikunjungi dalam rangka sembahyang. Katanya sih kalau berdoa di sini, seringnya dikabulkan. Mau coba?

 

PS: Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaPalembang #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang.

 

4 thoughts on “Pulau Kemaro dan Legendanya

    1. Ndak ketemu, konon ibu itu cuma mau menemui dan meramal mereka yang dia anggap layak ya? Aku sedih aku gak layak 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *