Lebaran sebentar lagi

images

Sumber gambar: http://www.micecartoon.co.id/mudik-dulu-yahhh/

Sepanjang 38 tahun hidup saya, saya menjalani 28 tahun tinggal di kota yang ditinggali penghuninya saat Lebaran, sisanya di 2 kota yang menjadi tujuan Lebaran. Jakarta, Bandung, dan Bogor.

Dan dari kesemuanya selalu saya nantikan keriuhan khas Lebarannya. Mudik.

Bukan, bukan saya yang mudik. Seumur-umur saya mudik cuma 2x. Waktu SMP dan waktu Mama saya meninggal. Saya belum pernah ngalamin sendiri yang namanya mudik Lebaran.

Maksudnya, mudik orang-orang di sekeliling saya. Keriuhannya, kerepotannya, keriaannya.

Misalnya tadi pas saya naik Commuter Line dari Bogor menuju Jakarta. Di gerbong saya ada beberapa keluarga yang naik membawa koper-koper besar kardus mie instan yang saya rasa isinya barang-barang/oleh-oleh mudik. Kelihatannya tujuan mereka ke Stasiun Gambir, Jatinegara, atau Senen (CL arah Jakarta tidak stop di kedua stasiun tersebut, kita sebaiknya turun di Gondangdia buat ke Gambir dan Sentiong buat ke Senen nyambung bajaj/taksi. Kalau dari Jatinegara ke Senen, bisa langsung turun di Senen) untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.

Saya senang lihat wajah gembira mereka. Wajah penuh harap segera ketemu keluarga di rumah. Saya senang ngebayangin mereka akan jalan-jalan rame-rame (soalnya saya senang jalan-jalan :D). Saya senang melihat bahwa kita masih memegang tradisi mudik ini (walaupun kalimat saya ini kemungkinan besar akan diprotes dan dijadiin ajang curhat oleh mereka yang ART/babysitternya mudik :D).

Semoga kalian yang mudik dilancarkan jalannya, selamat sehat sampai tujuan dan kembali lagi ke domisili kalian. Inget, Lebaran sebentar lagi.

Punya cerita mudik yang paling berkesan? Sini-sini ceritain di komen ^_^

8 thoughts on “Lebaran sebentar lagi

  1. Gw malah hampir ga pernah merasakan yang namanya mudik :(. Kegiatan yang paling mendekati dengan konsep mudik mungkin waktu dulu tahun ’84-86 tinggal di Padang. Setiap lebaran main ke rumah kakek (bokapnya bokap) di Pariaman. Tapi di luar lebaran, bisa dibilang hampir sebulan sekali keluarga gw main dari Padang ke Pariaman (yang jaraknya cuma 60 km). Jadi ya kurang berkesan juga pas mudik beneran. Apalagi selama lebaran di sana gak ada tuh yang namanya macet2an. Sebelum pindah ke Padang, waktu tinggal di Cimahi, sempat juga ngerasain mudik ke rumah kakek nenek (ortu nyokap) di Surabaya. Tapi gw masih kecil jadi ya kagak berasa.. :v

    Setelah berkeluarga, gw tinggal di Bandung. Sementara orang-tua menetap di Cimahi. Jadinya kalo mudik ya cuma masuk pintu tol keluar pintu tol, which only took like 20 minutes top hehe… Kadang-kadang pengen deh kayak orang-orang macet-macetan di jalan selama 15-20 jam, sambil tetap berpuasa, buat mengunjungi sanak saudara.

    Tapi setelah dipikir-pikir lagi kayaknya nggak terlalu pengen juga… haha

    1. Deket gitu gak berasa ya mudiknya XD Konon menurut yang tiap tahun mudik, seninya itu di perjalanannya yang astaga macet dan repotnya. Gue pengen sih, tapi lalu kebayang suami capek bawa kendaraan ke Payakumbuh, belum repotnya kalo gue hayang kiih di jalan. Cowok mah kebelet tinggal mojok, lah cewek :)))

  2. Hampir seumur hidup saya tinggal berdekatan dengan bapak dan ibu. Setelah menikah berlainan kota itupun antara Cimanggis dan Tangerang. Jadi pengalaman mudik saya hanya sepanjang Tanggerang dan Cimanggis. TEh Nita bisa bayangin sendiri deh kehebohan nya seperti apa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *