Semua ada kadaluarsanya

giphy (1)

Saya punya teman. Teman sepermainan. Halah.

Dulu kami mungkin bisa dibilang bersahabat. 2x sekantor bertahun-tahun dan di kantor terakhir bisa dibilang dia yang bantu saya masuk. Minimal dia yang rekomendasikan saya.

Persahabatan kami berjalan sekitar 13 tahun. Saya sering menginap di rumahnya. Dia pernah menginap di kosan saya. Kami saling cerita ini itu. Hampir tiap malam smsan sambil nonton film horor yang sama cuma buat komentarin film. Padahal dia nonton di rumahnya, saya nonton di rumah saya.

Sampai beberapa tahun lalu, kehidupan membawa hubungan kami sedikit merenggang. Agak jarang kontak. Banyak yang terjadi dalam hidup saya saat itu dan mungkin demikian juga dalam hidupnya. Dan kemudian kami hilang kontak sama sekali.

Saya tiba-tiba sadar bahwa saya di-unfriend di FB dan unshare di Path.

Kesibukan bikin saya baru sadar soal itu beberapa waktu kemudian. Kemudian saya coba add friend dan share lagi. Tapi kelihatannya tidak digubris. Saya kirim pesan japri juga tidak ditanggapi. Saya tanya ke salah satu sahabatnya yang juga teman saya. Dia tidak menjawab.

Saya salah apa?

Akhirnya saya buka phonebook handphone, saya cari nomernya. Saya sms.

Tidak dijawab juga.

Sampai akhirnya suatu malam saya memberanikan diri untuk menelponnya langsung. Dijawab. Dan belakangan dia bilang bahwa itu dilakukan karena dia sudah menghapus nomer saya jadi dia lupa dan gak ada nama saya di hapenya.

Saya basa-basi dulu menanyakan kabarnya, kabar mamanya, kabar pekerjaannya. Kemudian saya tanyakan apa yang terjadi di antara kami.

Jawabannya kayak di film.

“It’s not you. It’s me.”

Saya sempat terdiam.

Saya tanya lagi maksudnya apa. Dia menolak menjelaskan. Hanya bilang permasalahannya ada di dia. Bukan di saya.

Saya sedih. Banget. Karena saya merasa bersalah atas entah apa yang sudah saya lakukan hingga membuatnya menjauhi saya. Dan saya merasa kehilangan teman baik saya.

Percakapan kami akhiri dengan saya bilang, “Hubungin gue anytime, kalau lo berubah pikiran. Gue masih anggap lo teman gue.”

Kemudian saya duduk menenangkan diri. Menenangkan tangan saya yang gemetar dan mata saya yang basah.

Saya ingat seseorang pernah berkata, “Semua ada kadaluarsanya. Seleksi alam. Kita gak bisa berbuat apa-apa. Ikhlasin. Kalau memang kelak ada jodohnya, akan bertemu lagi.”

Mungkin ini kadaluarsa pertemanan kami. Seleksi yang dilakukan alam untuk menggiring kami ke jalan lain yang mungkin akan membuat kami lebih baik.

Mungkin.

Perasaan saya sedikit membaik seiring dengan penerimaan itu. Walaupun tetap bikin saya kehilangan.

Kamu, entah baca atau tidak. Semoga kamu selalu berbahagia. Semoga pertemanan kita yang tidak singkat itu sudah membentukmu jadi yang lebih baik. Semoga kelak, kita berjodoh lagi. Dan kalaupun tidak, saya senang sekali pernah berteman denganmu. Be good, be happy, be safe, and Godspeed 🙂

4 thoughts on “Semua ada kadaluarsanya

  1. “Kemudian saya duduk menenangkan diri. Menenangkan tangan saya yang gemetar dan mata saya yang basah”

    ga kebayang rasanya pas lagi ngalamin ini…

  2. Kadang-kadang Alam menarik orang-orang yang sudah lama disekeliling kita untuk memberikan ruang yang baru buat orang-orang baru yang mungkin mempunyai kontribusi positif di kehidupan kita kedepannya……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *