Menjejakkan langkah di Rumah Puisi Taufiq Ismail

Ada sajadah panjang terbentang

dari kaki buaian

sampai ke tepi kuburan hamba

kuburan hamba bila mati

Rindu kami padamu ya Rasul

rindu tiada terperi

Kalau pernah kenal grup musik Bimbo, pasti kenal kedua lagu itu. Kalaupun tidak kenal, biasanya kedua lagu tersebut banyak diputar di berbagai tempat selama bulan Ramadan.

Lirik lagu tersebut ditulis oleh Taufiq Ismail yang merupakan salah satu penyair dan aktivis di Indonesia. Bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, beliau lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat.

2016-08-09_01-08-15

Dibangun atas bantuan dana dari Habibie Award melalui The Habibie Center, Rumah Puisi Taufiq Ismail ini digunakan sebagai penyimpanan koleksi puisi dan juga sebagai perpustakaan sekitar 8000 buku milik beliau. DELAPAN RIBU. dan itu baru sebagian karena masih ada yang beliau simpan di rumah di Jakarta saat ini. Rumah Puisi yang terletak di kaki Gunung Singgalang dan Gunung Merapi ini memberi nuansa adem dan hening. Cocok sekali buat leyeh-leyeh sambil membaca berbagai buku sastra yang bisa dipinjam untuk dibaca di tempat.

2016-08-09_01-06-59

Di tempat ini juga terdapat sudut kerja beliau dengan pemandangan yang cantik. Yang kayaknya kalau saya bisa sebulan aja kerja di situ, satu novel bisa kelar lah 😀

2016-08-09_01-07-42

Selain Rumah Puisi, di lahan yang sama juga terdapat Rumah Budaya Fadli Zon (yang ternyata menulis puisi juga) dan penginapa The Aie Angek (Air Hangat) Cottage.

Taufiq Ismail berharap keberadaan Rumah Puisi ini membuat para generasi muda semakin banyak menelurkan karya tulisan. Tak perlu dalam bentuk tulisan puisi, bisa dalam bentuk tulisan apapun. Just write.

2016-08-09_01-05-54

Kamu sudah menulis?

6 thoughts on “Menjejakkan langkah di Rumah Puisi Taufiq Ismail

  1. Aku Patut malu pada diri sendiri. Tiap pulang kampung dari perjalanan Padang menuju Bukit Tinggi pasti melewati rumah puisi ini tapi saya belum pernah sekalipun mampir. Tidak tepat saja waktunya. Semoga pas nanti pulang lagi bisalah mampir 🙂

    1. Mampir, Mbak. Jangan lupa beli satu buku puisi, lalu baca di teras Rumah Budaya sambil seruput teh daun kopi dan menatap Marapi ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *