Pecalang, siapa mereka?

Di kunjungan saya ke Bali beberapa tahun lalu, saya beberapa kali mendengar kata “Pecalang”. Terutama saat membahas keamanan di Bali. “Tidak ada maling, kak. Ada pecalang yang jaga,” kata salah satu petugas penginapan saya.

Awalnya, saya mengira pecalang itu kata ganti orang pertama. Ya siapa tau bli petugas tadi mengatakan “Tidak ada maling, kak. Ada saya yang jaga.” Beberapa kali saya memakai kata tersebut untuk menyebut diri saya sendiri yang berujung dengan saya menerima tatapan bingung. Sampai kemudian seorang warga yang baik hati menjelaskan arti pecalang ke saya. Rasanya saya mau menghilang saking malunya 😀

pecalang-ilustrasi
Sumber gambar: https://phdikarangasem.wordpress.com

Dari hasil saya browsing sana sini, pecalang merupakan petugas keamanan yang swadaya oleh warga Bali. Pecalang merupakan orang yang dipercaya warga mendapat tugas menjaga keamanan banjar (desa adat) tempat tinggalnya. Seperti apa penampakan pecalang ini? Biasanya mereka memakai pakaian adat Bali (yaitu udeng dan kain kotak-kotak), keris, beserta rompi hitam dengan tulisan Pecalang + nama banjar mereka.

Kata “Pecalang” sendiri konon berasal dari kata “celang” atau “calang” yang artinya berindera mumpuni. Pecalang berarti orang yang semua inderanya mumpuni melebihi orang lain. Kelebihan ini membuat mereka menjadi lebih mudah dan waspada dalam menjaga keamanan desa adat mereka terutama saat ada kegiatan besar seperti upacara agama dan kegiatan lainnya.

Ada dua jenis pecalang, yaitu pecalang sekala dan pecalang niskala. Pecalang sekala adalah mereka yang bisa dilihat. Dengan kata lain, manusia. Pecalang niskala adalah pecalang yang tidak dibisa dilihat dan dirasakan indera manusia. Seru ya 😀

Pecalang niskala dipercaya disediakan oleh Semesta untuk menjaga keharmonisan hidup dunia fana. Jenis Pecalang niskala adalah:

  • Pecalang Ring Purwa (mata angin Timur) memiliki nama Sang Jogor Manik. Sering juga dipanggil dengan nama Bhagawan Penyarikan,
  • Pecalang Ring Pascima (mata angin Barat) memiliki nama Sang Citrangkara. Sering juga dipanggil dengan nama Bhagawan Anglurah,
  • Pecalang Ring Daksina (mata angin Selatan) memiliki nama Sang Dorakala
  • Pecalang Ring Utara (mata angin Utara) memiliki nama Bhagawan Wiswakarma.

Sementara pecalang sekala dibagi menjadi beberapa macam, di antaranya:

  • Pecalang Desa Pekraman (Pecalang banjar pekraman) dikenal juga sebagai Jagabhaya Desa, tugasnya menjaga keamanan Desa Pekraman

Pecalang Desa Pekraman

Sumber gambar: singaraya.com

  • Pecalang Subak (penglima Toya), tugasnya memastikan keamanan pengaturan pengairan sawah.

subak

Sumber gambar: heritageinventory.web.id

  • Pecalang Segara (Pecalang Bendega), tugasnya menjaga keamanan wilayah nelayan atau pantai.

Buleleng

Sumber gambar: beritabali.com

  • Pecalang Hutan (Jagawana), tugasnya menjaga keamanan wilayah perhutanan agar tidak terjadi pencurian dan penebangan pohon secara sembarangan.

hutan bambu Bangli

Sumber gambar: bali.panduanwisata.id

  • Pecalang Sawung Tabuh Rah, tugasnya menjaga keamanan saat sabung ayam.

Tabuh Rah

Sumber gambar: dewatanews.com

Unik banget ya, sabung ayam pun ada pecalangnya. Selain keunikan tersebut, menyesuaikan dengan jaman, para pecalang kini mendapat pendidikan dan fungsi intelijen. Iya, kayak di film-film gitu. Bersama dengan kepolisian, para pecalang diharapkan bisa bekerjasama mendeteksi isu dan ancaman yang berkenaan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat.

pecalang intelijen

Para pecalang mengikuti sosialisasi Pecalang Intelligent Network (PIN)

Mengutip ucapan Wakapolresta Denpasar, AKBP Nyoman Artana yang dimuat di Tribun Bali, ” “Kepolisian melihat adanya potensi besar yang dimiliki oleh pecalang di Bali. Baik pecalang dan polisi sama-sama memiliki tugas menjaga keamanan di masyarakat. Oleh sebab itu, kepolisian akan bersanding dan bekerja sama dengan pecalang dalam program PIN ini. Nantinya pecalang akan berperan menyampaikan informasi terkait isu-isu Kamtibmas di desa mereka masing-masing. Ini merupakan sebuah program terobosan dari Satuan Intelkam.”

Pecalang yang awalnya saya sangka sekadar hansip desa, ternyata fungsi dan persyaratannya lebih rumit. Saya jadi malu sendiri pernah meremehkan pecalang. Sekarang tiap ke Bali saya memiliki respek yang lebih pada para pecalang, mengingat tugas mereka yang cukup berat. Secara gotong royong menjaga daerah tempat tinggal mereka yang berada di propinsi yang merupakan salah satu tujuan wisata terbesar di dunia tetap aman dan layak kunjung. Sungguh mahakarya Indonesia yang luar biasa.

Bagaimana menurutmu sendiri soal pecalang ini? Apakah ada pengalaman berkaitan dengan mereka?

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba penulisan Jejak Mahakarya.

Sumber gambar karikatur: abewardana.blogspot.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *