Pesona Toraja: Tau-tau, bukan sekadar patung

Kematian di Toraja juga sangat terkenal dengan keunikan makamnya. Jenazah tidak dimakamkan dengan dikubur di dalam tanah. Melainkan dimakamkan di tebing batu dan “ditemani” oleh tau-tau (patung). Namun ada juga yang tempat pemakamannya berbentuk rumah, biasanya disebut pemakaman modern. Kali ini saya hendak sedikit membahas tau-tau yang seringkali saya lihat di Toraja, terutama di pemakaman tua dan pemakaman bangsawan.

2017-04-24_08-50-18

Ketika kita melihat tebing batu yang dijadikan kuburan di Tana Toraja, kita akan melihat tau-tau yang ada di hampir setiap pintu makam. Patung ini dibuat persis seperti jenazah. Mulai dari tubuh sampai dengan struktur wajahnya dibuat semirip mungkin. Pintu makam di tebing batu berbentuk seperti jendela dan dijadikan sebagai tempat menyimpan jenazah. Jadi di dalam satu lubang, ada banyak jenazah yang masih satu keturunan atau satu keluarga.

Menurut Pak Naja, guide kami selama perjalanan #PesonaToraja, tiap tebing batu pemakaman dimiliki oleh satu keluarga besar. Kepemilikan tebing tersebut berdasarkan adat, jadi nampaknya tidak ada sertifikat khusus. Dalam kehidupan Toraja, memang masih sangat besar peran peraturan adat istiadat kebanding kepemerintahan daerah.

2017-04-24_08-46-10

Komplek pemakaman tebing batu di Lemo, Tana Toraja. Semakin tinggi posisi makam dan tau-tau, semakin tinggi pula status sosialnya.

Jenazah orang yang sudah meninggal di Toraja tidak langsung dimakamkan saat itu juga, melainkan menunggu hingga pihak keluarga memiliki dana yang cukup untuk menyelenggarakan upacara pemakamannya (rambu solo’), dan ini bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun tergantung kecepatan pengumpulan dana. Jenazah akan diletakkan di Tongkonan, dan sebelum siap diupacarakan akan disebut sebagai orang sakit (to makula’) dan disimpan dalam peti khusus. Ada juga to makula’, yang dalam posisi duduk. Posisi duduk ini difilosofikan sebagai posisi bayi yang ada di dalam perut yang juga dalam keadaan duduk. Agar tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Ada juga yang memakai formalin.

Tau-tau ini adalah bagian dari adat istiadat Toraja yang paling dikenal. Istilah tau-tau berasal dari tau = orang. Jadi tau-tau=orang-orangan=menyerupai orang”. Karena patung ini dibuat sedapat mungkin menyerupai orang yang meninggal tersebut. Bahkan para pembuat patungnya pun harus membuat patung ini langsung di dekat jenazah.

Makna dari keberadaan tau-tau ini bagi rakyat Toraja adalah bahwa orang-orang yang sudah meninggal tidak sepenuhnya meninggal. Hanya raga mereka saja yang meninggal, tetapi roh mereka masih hidup di alam lainnya. Jadi ya dapat dikatakan sebagai replika dari orang yang sudah meninggal. Patung ini akan diletakkan persis di sekitar makam orang yang sudah meninggal ini. Tau-tau dijadikan sebagai salah satu komponen penting dalam upacara kematian besar yang akan digelar oleh suku Toraja (atau disebut upacara rambu solo’).

Cara pembuatan tau-tau

Para pembuat tau-tau adalah seorang pengrajin khusus, karena ada ritual adat tersendiri yang harus dilakukan dalam membuat patung ini.

Karena upacara pemakaman jenazah yang harus menunggu sampai pihak keluarga mampu membuat hajatan, maka patung tau-tau ini harus disimpan dengan baik. Ada ruangan khusus untuk menyimpannya, dipersulit sedemikian rupa sehingga mempersulit orang yag berniat mengambil tau-tau tanpa ijin. Konon harga jual patung ini di pasaran sangat tinggi sehingga banyak orang yang memburunya untuk diperjualbelikan. Tapiii, katanya sih tau-tau curian seperti ini biasanya akan “minta” dikembalikan ke makam aslinya. Ehe. Good luck with that.

Tau-tau dibuat dari bahan kayu khusus, yaitu salah satunya dari kayu nangka yang harus diambil dari wilayah Tana Toraja. Kayu nangka sudah dijadikan sebagai bahan yang diharuskan untuk dipakai sejak turun temurun. Bila patung tau-tau ini dibuat dari pohon nangka, berarti si jenazah berasal dari keturunan bangsawan tinggi. Sedangkan untuk kalangan sosial menengah, tau-tau-nya dibuat dari kayu randu. Untuk yang berasal dari status sosial yang rendah, tau-tau akan dibuat dari kayu bambu. Jadi kita bisa menilai status sosial orang yang meninggal berdasarkan bahan pembuat tau-taunya.

2017-04-24_08-48-22

tau-tau versi lama di Tampangallo, menggunakan kayu nangka asli dari tanah Toraja, lebih sederhana bentuknya. Tampangallo adalah salah satu kuburan tertua di Toraja tempat para tetua adat Sangalla dimakamkan. Konon mereka adalah keturunan Puang Tomanurun Tamboro Langi’ (Sang Pencipta) dan yang pertama kali membawa adat istiadat upacara kematian di Toraja.

Dalam pembuatan tau-tau ini, si pengrajin akan dibayar dengan beberapa ekor babi berukuran besar yang sudah dewasa. Ini dikarenakan memang tingkat kesulitannya yang tinggi.

Syarat pembuatan tau-tau

Sebelum membuat tau-tau ini, ada ritual tersendiri yang menjadi syarat pembuatannya. Ritual yang harus dilakukan oleh si keluarga yang berduka sebelum pembuatan tau-tau ini adalah dengan menyembelih dua ekor babi. Ritualnya pun dilakukan bertahap. Yakni pemotongan babi pertama dilakukan sebelum memulai membuat tau-tau, dan untuk pemotongan babi kedua dilakukan ketika proses pembuatan kelamin.

Berikut adalah syarat-syarat singkat yang harus dilakukan sebelum membuat patung tau-tau:

  1. Dibuat oleh pengrajin khusus. Karena kemiripan dari patung tau-tau dengan jenazah,  harus dilakukan oleh tangan-tangan yang professional yang memang khusus pembuat tau-tau.
  2. Dilakukan di dekat jenazah. Jadi si pengrajin tau-tau harus membuat patung tau-tau ini di dekat jenazah, agar tingkat kemiripannya semakin akurat.
  3. Mampu mengadakan pesta rambu solo’ dengan memotong sedikitnya 24 ekor kerbau, dan beberapa ekor babi sebagai bagian dari ritual dan bayaran si pengrajin.
  4. Menyediakan ruangan khusus untuk menyimpan patung tau-tau sebelum upacara rambu solo’ dilakukan. Ini dipersiapkan demi keamanan patung.

Adat istiadat dalam upacara rambu solo’ yang melibatkan tau-tau  ini adalah adat yang sangat unik. Sebuah kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keragaman adat istiadat di Indonesia tercinta.

Ada filosofi tersendiri di balik tau-tau yang posisi tangannya diatur sedemikian rupa: tangan kanan menghadap ke atas sedangkan tangan kiri menghadap ke bawah. Posisi tangan ini memiliki arti meminta dan memberkati, dan mencerminkan posisi antara yang hidup dan yang mati.

Menurut adat istiadat Toraja, manusia yang telah meninggal membutuhkan bantuan keturunannya yang masih hidup untuk mencapai surga (puya) melalui upacara adat, sedangkan yang hidup mengharapkan berkah dari yang mati untuk tetap menyertai kehidupan anak cucu mereka. Melalui patung ini, interaksi dianggap tetap berlangsung karena tau-tau dianggap menampakkan persekutuan yang langgeng antara orang hidup dengan orang mati.

Dalam adat Suku Toraja, dikenal empat macam tingkat status sosial (Tangdilintin, 2014: 14), yakni (1) Tana Bulaan atau golongan bangsawan, (2) Tana Bassi atau golongan bangsawan menengah, (3) Tana Karurung atau rakyat biasa dan (4) Tana Kua-Kua atau golongan hamba. Setelah meninggal maka pihak keluarga yang berasal dari kaum bangsawan, diwajibkan untuk membuatkan tau-tau sebagai simbol si mati. Pembuatan tau-tau merupakan simbol penyembahan atau pemujaan pada Aluk Todolo yang tidak dapat dipisahkan, meskipun sudah ada kepercayaan yang mutlak (Datuan dalam Syahril, 2016:)

sumber dari sini

Dari segi tampilan fisik tau-tau yang lama memperlihatkan raut wajah secara abstrak, aksesoris emas asli dan cara pembuatannya masih menggunakan alat-alat sederhana. Sedangkan tau-tau yang baru telah megalami banyak perubahan, seperti raut wajah yang sama persis dengan yang meninggal. Aksesorisnya bukan lagi emas dan cara pembuatannya telah menggunakan peralatan yang canggih. Bahan utamanya pun telah berbeda, dulu tau-tau menggunakan kayu nangka asli dari Tana Toraja, namun saat ini banyak kayu nangka telah didatangkan dari luar Tana Toraja.

2017-04-24_08-41-59

Tau-tau versi lebih modern di Ke’te Ke’su yang kemiripannya sangat mendekati wujud orang yang meninggal. Tau-tau seringkali dipakaikan pakaian adat dan aksesoris yang biasa dipakai oleh orang tersebut, misalnya kacamata.

Tau-tau dan jenazah diletakkan di bukit batu tinggi karena banyaknya pencurian tau-tau dan harta benda jenazah yang disimpan di makam dan yang dikenakan tau-tau. Bahkan di Ke’te Kesu’, salah satu situs tongkonan dan pemakaman yang populer di Tana Toraja, tau-tau disimpan di dalam gua yang diberi pagar besi, ada di dalam kotak kaca tebal. Bagi saya ini ironis karena tau-tau semestinya melambangkan berkat dan perlindungan dari yang mati kepada yang hidup, namun malah dijarah oleh mereka yang hidup 🙁

2017-04-24_08-44-06

Replika tau-tau versi lama. Walaupun secara sepintas tau-tau berwujud sama dan akan dipakaikan pakaian sesuai jenis kelamin orang yang meninggal, alat vital orang yang meninggal tetap harus diukir juga. Seperti terlihat di foto ini 😀

2017-04-25_02-38-20

Mengamati pengrajin tau-tau (khusus suvenir) bekerja, di Lemo.

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

PS: Bila ada teman-teman pembaca yang hendak menambahkan maupun mengoreksi tulisan saya, moggo loh. Terima kasih sebelumnya ^_^

PS lagi: Terima kasih kak Olyvia Bendon buat koreksinya :*

13 thoughts on “Pesona Toraja: Tau-tau, bukan sekadar patung

    1. Masih ada bocah-bocah pemandunya, Kang. Ganteng pula. Amin semoga yang ngajak seneng yaa :))

      cc. yang suka ngajak jalan-jalan

  1. Suka deh baca tentang daerah yang masih lekat dengan adat istiadat dan budaya Indonesia di jaman serba teknologi ini. Well written, tehNit!

  2. Oh jadi semakin tinggi posisi tau-tau artinya semakin tinggi posisinya dalam masyarakat. Berarti developer apartemen itu terinspirasi dari tau-tau ya…. makin tinggi unit apartemennya makin mahal harganya, dan kondominium mewah ditaruh lantai paling atas! 😀

  3. Pingback: Ada cinta sampai mati di Tampang Allo, Tana Toraja – cogito et scribo ergo sum

  4. Budaya ini sungguh unik dan membikin bangga yah..aku suka cerita tentang tau-tau dan baru tahu juga maksud pembuatannya demikian. selama ini kalau lihat foto makam Toraja dgn bolong-bolong di tebing yang terbersit dikepala adalah “kok ada boneka ya”. Skrg ku tahu. makasih teh nit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *