Ada cinta sampai mati di Tampang Allo, Tana Toraja

Memasuki gua Tampang Allo, saya merasakan keheningan dan kedamaian yang tidak biasa. Tempat ini adalah tempat persemayaman raja-raja dan bangsawan lama, terlihat dari bentuk tau-tau yang masih berbentuk tau-tau lama. Gua ini tidak terlalu luas, namun tinggi menjulang dan terbuka hingga tidak meninggalkan kesan pengap. Di sekelilingnya adalah sawah dan tumbuhan liar. Menuju gua Tampang Allo sebenarnya tidak terlampau jauh dari pintu gerbangnya, namun keheningan sepanjang jalan membuat saya merasa memasuki dunia yang berbeda.

2017-05-04_11-47-36

Menuju gua Tampang Allo

Di Tampang Allo saya melihat banyak tengkorak dan tulang belulang ditumpuk di beberapa tempat. Menurut tour guide kami, asalnya dari erong yang sudah lapuk dan jatuh. Tulang belulang tersebut tidak sembarangan langsung diambil dan ditumpuk begitu saja, melainkan melalui upacara adat yang dilakukan oleh keluarga. Luar biasa ya penghormatan Toraja kepada jasad manusia, bahkan menjadi tulang belulang.

2017-05-04_11-50-52

Tulang belulang manusia di gua Tampang Allo

Dan tak sekadar makam, Tampang Allo ternyata merupakan bukti cinta sepasang manusia pada satu sama lain, dan dua keluarga besar kepada perdamaian.

2017-05-04_11-58-02

Erong dan tau-tau

***

Gua pemakaman Tampang Allo di Tana Toraja ini dimulai dari keinginan seorang suami istri yang ingin dimakamkan bersama, bernama Puang Manturio dan Rangga Bulaan. Sang suami, Puang Manturino, adalah seorang penguasa Sangalla di abad ke 16 lalu.

Mereka memiliki cinta yang besar satu sama lain sehingga bersikeras untuk dimakamkan dalam satu tempat yang sama, yaitu di Gua Tampang Allo. Umur tak dapat ditebak, ternyata yang meninggal terlebih dahulu adalah sang istri, Rangga Bulaan. Jasadnya langsung dimasukkan ke dalam rong (lubang) Tampang Allo.

Kepergian Rangga Bulaan membawa duka mendalam bagi Puang Manturino. Hidup tak sama lagi tanpa separuh nyawanya. Tak lama setelah kepergian Rangga Bulaan, Puang Manturino pun berpulang. Death by broken heart is real.

2017-05-04_11-49-10

Gua Tampang Allo dari depan

Tidak seperti janji sepasang suami istri tersebut, jasad Puang Manturino tidak dimasukkan ke dalam gua Tampang Allo, melainkan dimakamkan di gua Losso, tak jauh dari gua Tampang Allo. Di sini ajaibnya. Saat meninggal dunia, jasad dimasukkan ke dalam erong (peti mati) sebelum diletakkan di gua. Entah bagaimana caranya, suatu hari erong Puang Manturino ditemukan dalam keadaan kosong. Setelah diperiksa, ternyata jasad Puang Manturino sudah berada dalam erong Rangga Bulaan, dalam keadaan berpelukan. Ajaib.

2017-05-04_11-45-47

Langit-langit gua Tampang Allo

Puang Manturino adalah raja Sangalla. Ketika dia tiada, maka harus ada penerusnya. Maka dari itulah muncul Puang Musu sebagai raja Sangalla yang selanjutnya. Tanda kepemimpinannya adalah pusaka kerajaan yang bernama Baka Siroe’. Puang Musu ini pun juga dijadikan sebgaai pimpinan Tongkonan Puang Kalosi.

Di masa pemerintahan Puang Musu, kerajaan Sangalla mendapat serangan dari Kerajaan Bone. Pada saat peperangan berlangsung, sang raja baru, Puang Musu melarikan diri menuju ke Madan dengan melewati sungai Sa’dan. Pada saat itulah Puang Musu bertemu dengan Karasiak.

Ada niat tersembunyi dari Karasiak. Dia menginginkan pusaka kerajaan yang dibawa oleh Puang Musu. Melihat Puang Musu sedang membawa senjata kerajaan, Karasiak berusaha merebut senjata tersebut dengan cara membunuh Puang Musu. Sejak saat itulah keluarga Puang Musu dan Karasiak tidak pernah berdamai.

2017-05-04_11-43-56

Salah satu jalan keluar dari gua Tampang Allo, selain dari mulut gua

Tahun 1934 ada niatan untuk berdamai antara keturunan Karasiak dan Puang Musu dengan menikahkan antar keturunan. Mereka pun menjadi satu keluarga dan bersepakat untuk menjadikan gua Tampang Allo sebagai pemakaman keluarga.

2017-05-04_11-56-56

Gua Tampang Allo dengan salah seorang rekan seperjalanan kami sebagai pembanding ukuran mulut gua

 

9 thoughts on “Ada cinta sampai mati di Tampang Allo, Tana Toraja

    1. iyaaa adem pol. semiir angin, hawa dingin. kalau gak inget itu kuburan mungkin aku udah nyender sejenak : ))

  1. Pusaka Baka’ Siroe
    Darimana asalnya Pusaka Baka’ Siroe ? soalnya
    Nenek saya ada namanya Siroe dari Sa’dan Ulusalu lembang Likulambe’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *