Patah hati di Ramadan hari pertama (bagian 1)

Pagi ini hati saya dua kali patah. Puasa hari pertama dan dihiasi air mata. Patah hati pertama adalah saat saya menyadari hari ini adalah peringatan 11 tahun gempa Jogjakarta 2006. What, 11 years ago already? Saya masih ingat detilnya seperti baru setahun lalu terjadi.

27 Mei 2006 jam 05.45 saya terbangun dengan malas di Hotel Sahid Raya Jogjakarta. Saya baru masuk kamar jam 01.30 dan tidur sekitar jam 02.00. Pagi itu harus bangun pagi-pagi karena agenda perjalanan masih banyak dan dimulai segera setelah sarapan. Saya baru saja meraih ponsel saya untuk menghubungi keluarga di rumah saat saya mendengar suara gemuruh.

Hal pertama yang saya pikirkan, “Merapi!” Karena beberapa hari sebelum kedatangan saya ke Yogyakarta, Gunung Merapi sedang batuk lumayan parah. Gemuruh disusul segera dengan guncangan yang tanpa basa-basi. Televisi di meja kamar bergeser dan bruk! jatuh. Saya membeku. Kawan sekamar saya sudah berteriak menyebut nama Tuhan sambil menangis. Tidak lama kemudian saya melihat gatis tipis retakan muncul di tembok di depan saya. Saya menatap langit-langit kamar sambil berpikir, “Jadi hari ini saya mati?”

Suara gemuruh terasa muncul dari mana-mana dan guncangan belum juga mereda. Saya berusaha bangun dengan sempoyongan. Perjalanan dari kasur ke pintu kamar hotel terasa sangat jauh dan sulit. Setengah perjalanan saya menuju pintu, guncangan dan gemuruh mereda. Di lorong hotel terdengar banyak teriakan doa dan panik.

 


Segera setelah guncangan selesai, saya kembali ke kamar, masuk ke toilet. Lah ngapain? Pakai beha, lah. Tidur mana enak kalau pakai beha yes, jadi semalem saya copot dulu, pakai daster, dan sebelum keluar kamar baru saya pakai lagi.

Aaanyway. Di halaman hotel sudah berkumpul para tamu. Ada yang berpakaian lengkap, ada yang cuma handukan, ada yang menangis, ada yang bengong, ada yang berdoa. Yang saya salut, pihak hotel dengan cepat menyiapkan teh manis hangat dan mengeluarkan bermacam roti untuk dibagikan ke tamu. Mengurangi shock.

Kami baru berkumpul di halaman hotel mungkin selama 30 menit ketika terdengar teriakan-teriakan dari jalan raya, “AIIR! AIIR! TSUNAMII! TSUNAMIII!

 


Saya langsung terduduk lemas. 26 Desember 2004 terjadi gempa hebat yang disusul oleh tsunami di Banda Aceh, saya menyaksikan kedahsyatannya melalui televisi. Dan hari ini nampaknya saya akan merasakannya langsung.

Kepanikan pecah. Beberapa orang memanjat atap bus dan pohon, sepasang lelaki dan perempuan jongkok berpelukan sambil menangis, seorang bapak langsung menarik anak dan istrinya memasuki mobil mereka dan bersiap pergi.

Saya? Pasrah. Duduk di parkiran sambil menyalakan rokok dengan gemetar. Udah sih gak bisa berenang, tsunami pula. Mau ngelawannya gimana?

Dan di sini saya menyaksikan kesigapan pihak hotel Sahid Raya Jogjakarta dalam menenangkan tamu. “Tidak ada air, tidak ada tsunami, aman semua!” teriakan para staff hotel bergema di antara kepanikan. Butuh waktu cukup lama untuk bisa meyakinkan kami, terutama karena di jalan raya terlihat orang-orang berlarian panik.

Tour leader rombongan saya menanyakan, apakah tour mau dilanjutkan atau pulang? Kami semua memilih pulang. Perjalanan keluar dari Jogjakarta tidak mudah. Jalanan dipenuhi manusia dan kendaraan. Di sana lah saya mulai mendapat “teaser” hasil gempa tadi. Bangunan runtuh, banyak motor lalu lalang membawa korban berdarah-darah. Saya menutup gorden jendela bus. Hati saya sakit. Saya mau pulang.

Sinyal telepon mati sama sekali, tak peduli mau sebagus apa providernya. Kami pulang dalam diam dan doa. Tidak ada suara lain selain isak tangis dan dengungan doa.

Sampai di Cilacap baru kami berhenti untuk istirahat dan makan malam. Menyaksikan berita televisi dan sms bertubi-tubi yang masuk (sinyal baru ada lagi), kami ternganga. Ratusan (saat itu masih dalam angka ratusan) korban jiwa, entah berala yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang yang mereka cintai. Terbersit dalam pikiran saya, “kami nyaris saja jadi sekadar angka.”

Hingga 2 tahun ke depannya, saya masih terlonjak kaget setiap mendengar suara gemuruh sekecil apapun, merasakan guncangan sepelan apapun. Selama 2 tahun ke depannya saya bersikukuh meletakkan sebuah tas bepergian di sebelah kasur saya di rumah, berisi pakaian, obat, air minum, dan makanan.

Pagi ini, hati saya patah mengingat kejadian tersebut. Mengingat isak tangis supir kantor saya yang istri dan ketiga anaknya (termasuk anaknya yang baru berusia sebulan) tewas tertimbun reruntuhan gempa. Mengingat betapa kecilnya saya sebagai manusia saat berhadapan dengan alam. Mengingat lebih dari 3.000 nyawa yang melayang hari itu.

(bersambung)

22 thoughts on “Patah hati di Ramadan hari pertama (bagian 1)

  1. kaakakkkk … bagian behanya itu loh … #gagalfokus
    anyway, gak kebayang gmn rasanya berada di tempat kejadian bencana alam …. ditunggu sambungannya kak nita.

  2. Kamu di Jogja waktu itu? Ya Allh Teh, baca ceritamu sampe ikut beku rasanya. Dingin dari kepala sampai jari kaki :((

    Semoga kita semua selalu dilindungi. Amiin…

  3. Mbak Nit pas di Jogja tho ternyata, aku merinding bacanya. Klo di desaku nggak parah tapi desa sebelah 2 dan daerah Klaten Selatan parah, isu tsunami itu yg beneran bikin geger.

    Ada hal lucu, pas duduk2 depan rumah sambil lihat org lalu lalang, rumah aku pinggir jalan besar mbak, ada org yg ngungsi sambil bawa ban gede. Ngekek. Dia mikir mungkin kalo air bah datang bisa ngambang pake ban.

  4. Bersyukur senantiasa dilimpahi keselamatan, Teh. Meski gak ada di sana saat gempa jogja, terasa berkabungnya saat itu. Terlebih mendengar langsung ceritanya Ifat yang tahun segitu dia sedang kuliah di sana sebagai anak kos yang jauh dari keluarga.

  5. Aduuh waktu gempa Jogja lagi disana yah Teh? Aduuhh aku ngebayanginnya jadi gemeteran sendiri.
    Alhamdulillah bersyukur masih diberikan keselamatan ya teh. Semoga Tehnit sekeluarga selalu dalam keadaan selamat dan sehat selalu yaaa.. *hugs*

  6. Ikut gemeteran bacanya :’)
    Alhamdulillah masih dikasih sehat sampe sekarang ya, teh..
    Semoga sehat selalu teh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *