Kunjungan ke Sekolah Magang Indocement

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, adalah salah satu produsen semen terbesar kedua di Indonesia. Selain memproduksi semen, Indocement juga memproduksi beton siap-pakai, serta mengelola tambang agregat dan trass. Indocement berdiri sejak 16 Januari 1985 yang merupakan hasil penggabungan enam perusahaan semen yang memiliki delapan pabrik, Pabrik pertama Indocement sudah beroperasi pada 4 Agustus 1975 (iya, lebih tua dari saya).

Per 31 Desember 2016, Indocement memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 24,9 juta ton semen per tahun. Indocement memiliki 13 buah pabrik, sepuluh diantaranya berada di Citeureup, Jawa Barat. Nah minggu lalu saya berkesempatan mampir ke lokasi di Citeureup bersama beberapa rekan blogger untuk mengunjungi beberapa proyek CSR mereka yang sudah berjalan.

SEKOLAH MAGANG INDOCEMENT

                             

Ibu Dani Handajani, Corporate HR Division Manager Indocement menyambut dan mengajak para blogger berkunjung ke Sekolah Magang Indocement di Citeureup. Sekolah magang ini memberikan beberapa pelatihan seperti pelatihan mengemudi, menjahit, las, tukang bangunan. Pelatihan tiap bidang keahlian waktunya berbeda-beda tergantung kebutuhan. Ada yang cukup 9 hari, ada pula yang butuh waktu hingga dua minggu sebelum peserta pelatihan dianggap lulus.

Sekolah ini terbuka untuk warga di sekitar pabrik dari 12 desa mitra. Indocement bekerja sama dengan kepala desa untuk pemilihan peserta sekolah magang. Prioritas untuk yang muda, usia produktif, dan belum bekerja. Sama sekali tidak dipungut biaya loh.

Sekolah magang yang kami kunjungi hari itu adalah untuk keahlian tukang bangunan. Peserta didik mendapatkan keahlian dasar soal bangunan dengan pelatih yang mumpuni di bidangnya. Salah satu peserta didik, Abdul Adjis, berkata “Kalau dulu saya jadi tukang bangunan gak pakai hitung-hitung angka-angka. Pakai akal sehat aja dikira-kira. Di SMI saya diajarkan buat ngitung-ngitung.” Pak Abdul Adjis bilang sejak lulus dari SMI ini, dia tidak lagi hanya bisa bekerja secara serabutan kalau dipanggil tetangga atau konstruksi kecil. Sekarang beliau sudah bisa bekerja di proyek-proyek besar berkat sertifikat SMI.

Bapak Lukman, salah satu alumni Sekolah Magang Indocement (SMI) bidang keahlian tukang bangunan. Setelah lulus dari SMI, menurut Pak Lukman, pekerjaan datang dengan cepat. “Saya tidak pernah lagi kekurangan pekerjaan,” katanya. Yang lain ada Bapak Budi Hermawan yang adalah salah satu peserta sekolah magang di bidang keahlian las. Setelah lulus ia juga segera mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.

Bapak Anton Suharyanto, peserta sekolah magang di bidang keahlian tukang las mengungkapkan rasa syukurnya karena sertifikat dari Indocement membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan hingga saat ini sudah menjadi pegawai tetap.

Selain melihat ruang kelas dan bertemu para peserta didik, kami juga mengunjungi para siswa sekolah magang yang sedang praktik. Selain teori yang diberikan dalam waktu 1 minggu, peserta juga melalui sesi praktek selama 1 minggu. Peserta sekolah magang mendapatkan pelatihan dasar seperti mencampur semen dan cor beton.

 

GERAKAN MASYARAKAT MANDIRI (GEMARI)

GEMARI mulai aktif di tahun 2009 dan berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter persegi. Luaaas. Awalnya GEMARI hanya bergerak di bidang perbaikan motor roda dua (bengkel motor), sekaligus menjadi tempat masyarakat desa mitra berlatih ketrampilan perbaikan motor.

Pada tahun 2012 GEMARI menambah kerajinan tangan “Sang Alam” dari desa Bantarjati sebagai bagian dari mereka. Mereka berlatih mengolah limbah (terutama limbah kayu palet) dari Indocement menjadi berbagai miniatur dan hiasan. Ternyata pelanggan mereka justru lebih banyak dari luar negeri, terutama untuk miniatur pesawat terbang. Beberapa maskapai Timur Tengah menjadi pelanggan mereka.

Tahun 2014, GEMARI menambahkan UMKM ikan hias “Bukit Kapur” dari desa Lulut.

Secara total, GEMARI bergerak di bidang:

  • pelatihan bengkel sepeda motor
  • inkubator plasma bengkel sepeda motor
  • pelatihan dan usaha kerajinan tangan
  • pelatihan dan pengembangan serta usaha ikan hias

Omset rata-rata gemari di keempat bidang tersebut perbulannya kurang lebih Rp 16jt/bln.

Untuk setiap Gemari, Indocement memiliki peran melatih, mempromosikan keahlian alumni, membantu promosi, menggunakan produksi Gemari untuk keperluan Indocement (souvenir), dll.

I-SHELTER

Usai dari Gemari, blogger melanjutkan perjalanan ke I-SHELTER. Di sini, pegawai dan kontraktor Indocement mendapatkan pelatihan soal safety, health, & environment. Nah setelah mendapatkan pelatihan di I-Shelter, karyawan dan kontraktor diharapkan bisa bekerja sesuai standar kerja terkait safety, health, & environment yang ditetapkan oleh Indocement.

“Jadi, `I-SHELTER` bukan sekadar membangun infrastruktur atau monumen fisik, namun lebih dari itu, yaitu membangun budaya, karakter dan menjadi monumen sosial di bidang keselamatan, kesehatan dan lingkungan yang sejalan dengan moto Indocement `Better Shelter for a Better Life`,” kata Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya di Citeurerup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat seperti yang dikutip di sini.
Ketika meresmikan Indocement-Safety Health Environment Learning Center (I- SHELTER), beliau berharap pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) dengan label dan predikat yang sangat memikat dapat menjadi tempat bernaung dalam membangun budaya keselamatan, kesehatan dan lingkungan.

Di I-SHELTER saya mendapati berbagai peralatan yang menunjang keselamatan kerja dan wajib dikenakan atau dikuasai siapapun yang memasuki wilayah Indocement. Ada alat simulator kendaraan besar juga. Mau nyobain sih penasaran gimana rasanya “mengemudikan” truk, tapi lagi gak dinyalain alatnya XD

Kunjungan singkat kami berakhir menjelang sore. Terima kasih Indocement sudah mengajak kami mampir berkeliling. Semoga ada kesempatan lain untuk melihat lebih banyak ya 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *